Senin, 31 Agustus 2009

MadWor(l)d

:: tafsiran liar atas lima syair lagu karya Helloween: The Dark Ride, Keeper of the Seven Keys, Wake up the Mountain, Eagle Fly Free, dan Mission Motherland.

- - -

Umat manusia hidup dalam kebutaan hatinya, tu(h)anku. Mereka saling bunuh saling tindas saling peras saling rampas. Mereka diperbudak nafsu angkara-murkanya. Mereka membikin dunia jadi terang-benderang demi agar bisa melihat dengan mata-kepalanya semesta dan sesamanya untuk melayani dan menjadi kurban naluri kejinya. Maka terasa percumalah nabi-nabi diutus, tu(h)anku. Mereka juga coba mereka-reka konstitusi dan beribu-ribu lembar kitab hukum dan aturan ini-itu. Tapi miliaran kepala dengan isi pikiran berbeda-beda toh pada akhirnya membuat tiap-tiap tubuhnya merasa terancam para liyan, siapa pun liyan itu adanya. Bahkan mereka yang mengalir darah sama dalam tubuhnya pun tak luput saling berebut, kadang malah berbunuhan. Dan titahmu, tu(h)anku, justru membikin mereka saling bersilang paham berebut kebenaran untuk diri dan kelompoknya masing-masing. Para liyan dilumat atas nama titahmu, tu(h)anku. Dan dunia jadi makin silang-sengkarut karena semua itu.

Tapi aku gembira kala tahu ada segelintir dari mereka menyeru pada kebajikan, mengajak umat manusia ’tuk saling bergandengan tangan. Walau aku juga paham, tu(h)anku, seruan mereka tak ubahnya suara teriakan di gurun pasir: segera lenyap segera senyap ditelan angin. Tapi menyedihkan pula segelintir dari mereka itu, tu(h)anku. Mereka telan mentah-mentah sabdamu. Mereka kutuki setan demi menyembunyikan kelemahan dirinya. Padahal setan itu adanya di dalam diri mereka jualah. Mereka kambinghitamkan makhluk di luar dirinya. Betapa bodoh lagi picik mereka, tu(h)anku.

Menyedihkan, tu(h)anku. Kenapa kau kurung mereka dalam paradoks tak bertepi. Tanpa paradoks hidup ini takkan pernah meng-ada dan men-jadi, katamu. Dan kiranya engkau patutlah tertawa menyaksikan sebagian umatmu itu saling tikam dan sebagian lainnya tak lelah mengajak pada kebajikan. Maka biarlah kusabdakan pada mereka sabdaku sendiri, bukan sabdamu.

Tak pernahkah kalian rasai ketakjuban pada dunia ini, hai manusia?

Mengapa kita ada di sini, di bawah naungan langit?

Adakah semua ini terlalu banal bagi pikiran dan perasaan kalian?

Takkah kita ada karena cinta dan untuk cinta?

Atau malah untuk membikin dosa berkelimpahan?

Bebaskan diri kalian dari ragam kecemasan, wahai manusia!

Lepaskan temali duniawi yang meliliti batang leher dan perutmu!

Bebaskan tanahmu dari perbudakan nafsu serakahmu!

Bebaskan tangan dan kuku-kukumu dari kehausanmu akan darah!

Singkirkan batu-batu yang menindih hatimu!

Dan saksikanlah luasnya cakrawala di atas kepalamu!

Lalu terbanglah lurus ke atas dan jangan pernah turun kembali!

Bila kalian tak sanggup maka pergilah ke segala arah!

Temukanlah kunci-kunci untuk membuka segala pintu kedurjanaan kehidupan!

Gunakan kunci-kunci itu nantinya ’tuk membuka pintu-pintu kebencian, ketakutan, kesia-siaan, ketamakan, kebodohan, wabah penyakit, dan dunia ini sendiri; agar semua itu pergi dan musnah dalam kehidupan kalian!

Tapi bila kalian tak jua mampu maka keluarlah dari bilik-bilik kemunafikan dan rayakanlah kegilaan kalian ini!

Dan aku yakin kebanyakan mereka takkan sampai pada pemahaman kalimat-kalimatku tadi, tu(h)anku. Mereka akan sangka akulah yang gila adanya... Kebanyakan mereka memang, parsis seturut sabdamu, ”bodoh dan keji...”

tubir neraka, 2009

Kamis, 27 Agustus 2009

i wish i could...

ingin aku bangkit berdiri,
merubuhkan tembok itu,
melesat meluruh bersama malam
menuju pagi,
mengetuk pintumu,
meraih tanganmu menggamitnya
lalu kita berjalan bersama
menuju tepian laut...

aku ingin bercerita ombak
di tepi pantai bercengkrama
meracik suka 'tuk menawarkan lara

ingin aku bercerita mentari
aku ingin bercerita pasirpasir
aku ingin bercerita pagi...

tapi aku tak jua kuasa berdiri
dan dindingdinding itu tetap kokoh
berdiri

maka aku hanya bisa mengejamu lewat mimpi
menyapamu dalam maya
mengenang segala perjumpaan
yang tak pernah kita lakukan...

Rabu, 19 Agustus 2009

Buatmu

malam ini,
aku sangat ingiiiiiiiin kamuuuuuuuuuuuuuuuuuu duduk disini denganku, mari ngeteh madu bersama. mari bicara buku, mari menyangsikan segala. Semua.


kenapa aku selalu merasa berjarak dari dunia luar. Dengan segala meriahnya. dengan segala tuntutan magis yang meraung-raung, menyeret-nyeret kesadaran pada ambang. Aku sungguh mau kamu. denganmu, aku seperti membaca buku, atau menulis pada catatan harian yang bisa bicara. Seperti cermin yang membelai rupa dari balik kaca. kamu, mungkin refleksi diriku sendiri. yang tak harus lagi aku menyembunyikan 'diri'. kamu, mungkin aku. aku. kamu. kita.


pagi ini,

aku memakai cardigan hijau, dengan long dress nuansa segala warna. berharap merayu hati agar lekas ceria. tak berhasil. hatiku tak pernah semudah itu tertipu. aaarrrrrghhhhhhhhhh, aku jengah.


kamu benar. sudah sebaiknya kita begini saja. tak perlu bersua. tak perlu menjadi nyata. aku lebih senang bermain-main sendiri dengan imajinasi ini. biarkan berkembang menjadi apasaja. tak mengapa.


sedang kubayangkan kau baca tulisan ini di depan layar, dengan sebatang rokok mild di jarimu, sebab mungkin kau sedang agak berbahagia, secangkir kopi, dan a beautiful mess di udara. haha, kamu tersenyum kecil sekarang. menertawai kepolosanku yang bercerita, menertawai kita... yang gila. yang tergila-gila dengan alam soliter berdua ini. kubayangkan lagi, jika saja kita benar bertemu, mengucap kata, mengumbar senyum, bergandeng tangan menyebrangi jalan, mungkinkah rasa ini akan sama? mungkinkah aku tetap kamu, dan kamu tetap aku?


aku tak tahu akan sampai kapan kita mengada dalam galaksi indah virtual ini, di mana segala hal menjadi mungkin. nikmati saja hari ini. tak perlu risau akan nanti. biarkan tetap mengada.. apa adanya. begini saja.

cien annos de soledad (3)

[ sunyi dalam segelas anggur ]

Suatu tengah-malam yang sepi, di dalam bilik kosanku, seorang diri aku menenggak segelas anggur merah sembari menghisapi berbatang-batang sigaret kretek mild. Bukan sebuah kegemaran, juga bukan sebentuk ketagihan, yang membuatku mesti melakoni semacam ritual untuk barang dua-tiga jam “meninggalkan alam nyata” guna “menerobos masuk dunia maya” lewat pengaruh minuman beralkohol malam itu. Memang, itu bukan pertama kalinya, namun sudah yang kesekian kalinya, aku mereguk minuman yang mengandung salah satu “zat surgawi” itu. Sudah setahun terakhir ini aku mulai kenal dengan redwine. Namun, sekali lagi, itu bukan sebentuk ketagihan –setidaknya, bukan ketagihan yang akut. (Ah, kau jelas benci dengan segala hal yang membuat orang kecanduan, dan benci pula kau pada orang yang kecanduan ;-p)


Satu alasan yang mungkin – dan semoga saja – bisa diterima adalah: saya terlampau merasa penat dan sesak dan muak dengan beragam realitas yang saya jalani dan temui, selaksa mereka adalah badai yang menghempas jiwa saya dari ketenangan dan keheningan hidup, menyeret saya jauh meninggalkan garis orbit di mana seharusnya saya beredar. Maka, dengan mengonsumsi barang seteguk-dua minuman beralkohol, segala penat, sesak dan muak itu menjadi sirna, dan, ini yang sesungguhnya terpenting, otot-otot psikis saya yang semula menegang bisa mengendur untuk kembali melakoni ritus keseharian esok paginya dengan sebuah senyuman puas dan bergas.


Saya tahu, alkohol punya efek samping yang merusak. Efek yang paling nyata dari reaksi alkohol di dalam tubuh adalah meningkatnya temperamen dan rasa percaya diri akibat mengendurnya “rem-rem psikis” (atau bisa juga disebut superego dalam terminologi Freudian). Akibatnya, banyak kasus kriminal ekstrim yang dipicu oleh pengaruh alkohol di dalam tubuh si pelaku. Bahkan, ada rumor menggelikan yang menyebutkan bahwa keputusan Saddam Hussein untuk menginvasi Kuwait pada tahun 1991 itu diambil di tengah-tengah suasana pesta minuman keras yang ia gelar bersama para punggawa Irak di istananya yang megah. Mengingat efek buruk alkohol bagi “akal sehat” manusia itulah maka tak heran bila agama-agama Ibrahimiyah (Monoteisme) mengharamkan kepada umatnya untuk mengonsumsi minuman beralkohol. Demikian pula dengan kebijakan hampir seluruh negara di dunia yang cenderung melarang, atau minimal membatasi, peredaran minuman beralkohol di tengah-tengah masyarakatnya.


Dus, untuk menghindari efek destruktif seperti yang telah kujabarkan di atas, saya dengan sengaja memilih untuk menggelar “ritual gaib” dengan menu redwine itu di dalam kamar, seorang diri. Saya selalu mendem seorang diri, dan tak pernah melakoninya secara berjamaah dengan kawan-kawan saya. Lagipula, seperti mungkin telah kau ketahui, aku bukan tipikal “manusia gerombolan” yang gemar dengan konformitas banal atas-nama kesetiakawanan sosial. Sebaliknya, seperti telah kupaparkan padamu tempo hari, aku selalu menjalani hidup dalam sunyi dalam sepi: dalam kesendirian! (Oh, aku jadi teringat sandekmu tempo hari itu: “kau hanya kesepian dan butuh teman, sebab itu kau kesakitan,” katamu. Aduhai…betapa kau mampu mendiagnosa diriku... Tapi andai kau tahu, betapa kehadiran teman di sisimu pun takkan sanggup mengusir segala sakit dan sepimu saat ia ternyata bukanlah orang yang mampu memahami dan berbagi denganmu. Malah kau bakal semakin kesepian dan jengah saat ia ternyata adalah orang yang teramat berbeda denganmu. Tapi bahkan bila ia adalah orang yang mampu memahami kita sekalipun, orang yang barangkali senasib dengan kita, tak ada jaminan bahwa sepi dan sakit itu akan lekas minggat dengan sendirinya dari bilik hati kita. Duh, memang “nasib adalah kesunyian masing-masing”…)


Maka tengah-malam itu, sekira sepuluh menitan setelah segelas anggur merah tereguk hingga tetes penghabisan, serasa ada samudera bergelombang yang tiba-tiba muncul dan pelan perlahan menelan tubuh dan kesadaranku, mengunyahnya hingga menjadi remah-remah yang berhamburan berlesatan tak tentu arah. “Aku hilang bentuk. Remuk!” begitu kira-kira dapat kulukiskan keadaan eksistensialku tengah-malam itu. Efek yang ditimbulkan memang tak sedahsyat “badai serotonin” akibat reaksi kimiawi amphetamine dalam berbagai jenis drug atau zat-zat adiktif lain semisal heroin, kokain, dan opium. Tapi cukuplah bagiku, khasiat redwine itu membawa kesadaranku lenyap dalam senyap meninggalkan sadis dan bengisnya dunia nyata. Ada semacam kondisi delirium di mana aku mengalami delusi dan halusinasi ringan, pertanda aku memasuki dunia antah berantah (untuk tak menyebutnya “alam gaib”, sebab kutahu kau bakal merinding dibuatnya –apalagi bila kau gemar menyimak film-film horor bikinan sineas-sineas Indonesia itu, hehehe…).

* * *

Kebiasaan membius diri dengan berbagai macam zat yang ada dalam beberapa jenis tumbuhan tertentu guna mendapati sensasi mistis dan gaib telah ada sejak jaman purba. Suku Indian Barasana di lembah Amazon barat laut di Kolombia dan Indian Quechua di Ekuador menggunakan tanaman ayahuasca (Banisteriopsis caapi), yang berarti “sulur jiwa”, untuk membuat “roh berkeliaran meninggalkan jasad” secara temporer. Setelah mengonsumsi tumbuhan ini, akan muncul rasa pusing, mual, muntah, disusul penglihatan yang mulai mengabur, dengan semburat cahaya dan kabut biru, lantas jatuh tertidur dan tenggelam dalam mimpi-yang-dalam. Sementara itu, tanaman koka dipuja-puja bangsa Inca, dan orang-orang Aztec menggunakan jamur psikotropika yang mereka sebut “daging dewa” (teonanacatl) untuk mendapatkan sensasi surgawi. Kaum Huichol di Nayarit, Meksiko, memanfaatkan kaktus peyote (Laphophora williamsi) untuk “bercakap-cakap dengan dewa mereka”.


Ada juga metode menenggelamkan kesadaran untuk menyelam jauh ke alam maya tanpa harus menggunakan zat-zat halusinogenik. Ya, apa yang diamalkan di dalam tarekat-tarekat sufi di Timur Tengah lewat alunan musik monoton yang berulang-ulang, atau melafalkan kalimat-kalimat dzikir dengan mengulangnya selama berjam-jam, atau dengan tarian berputar laiknya gasing seperti dijalankan para darwis pengikut Rumi, pada hakekatnya adalah langkah untuk menuju kondisi ekstase yang efeknya kurang lebih sama dengan khasiat zat-zat halusinogenik. Demikian pula yang dilakukan para rahib dan resi dengan merapal mantra-mantra khusus untuk membuka tabir alam gaib. Namun, tentu saja, cara-cara demikian jauh lebih sulit dan membutuhkan ketekunan dan kesabaran ketimbang menggunakan zat-zat halusinogenik yang notabene bisa dilakukan siapa pun tanpa harus bersusah payah.

* * *

Aduhai… aku bagai shaman yang mendapati dirinya membuka berlapis-lapis tirai gaib alam semesta guna menemui realitas-realitas tak kasat mata…

Ahaa… aku bak sufi yang mengalami trance dalam tarian-tarian mistis dan dzikir-dzikir ilahiyah…

Dan kau, stranger, bersediakah untuk mencicipi manisnya anggur merah bersamaku, menemaniku menyingkap selubung demi selubung misteri eksistensi, dan berdua menikmati panorama-panorama surgawi di semesta maya yang belum pernah kau kenal, untuk yang pertama sekaligus yang terakhir kali..? (semacam Perjamuan Terakhir yang sengaja ingin kuhelat khusus untukmu sebelum aku moksa, begitu kira-kira...)

Sudikah kau, stranger?

Sudikah?

Sudi?

Heh?

??

[ namun pabila kau menampiknya, maka ijinkanlah aku untuk sekedar meraih telapak tanganmu, menjabatnya, dan kemudian menciumnya sejenak, sebagai perlambang restumu untuk melepas kepergianku…]

18agustus2009


“durhaka”

Saat berselancar di jagat maya beberapa waktu silam, secara tak sengaja saya menemukan sebuah sajak yang boleh jadi amat menggetarkan sendisendi dalam tubuh kemanusiaan siapa saja yang membacanya. Sajak ini menggugat (atau mempertanyakan) kemapanan konsepkonsep primordial yang terkesan sepihak/beratsebelah dalam sebuah tata kemasyarakatan sehingga melukai “keadilan dan kemanusiaan”, terutama terkait konsep “durhaka”. Berikut saya nukilkan utuh.


Pledoi Malin Kundang

oleh Indrian Koto

i
karena jarak mengajarkan rindu
maka, izinkan aku mengangkat sauh, ibu
sejak dulu, aku ingin karam di laut yang jauh
agar aku tak melulu diserbu sesal yang gaduh
sebagaimana kau tahu,
tanah ini menyimpan kesakitan masa lalu
bagi lelaki seperti aku

maka, aku mencipta masa depan dalam ingatan
menghijaukannya diam-diam

aku celaka ibu, kutuk saja menjadi batu
agar lunas utang sangsaiku
agar padam segala keluh
agar sejarah tak perlu mencatatku
mengekalnya di balik cadas

duh, yang bernama keberangkatan
betapa ranum di matamu. hingga kau hapus
segala yang sisa.”
sedumu di sebuah subuh.

tidak ibu, segala tempat, segala waktu
dan untuk seluruh peristiwa setelahnya, hidup
adalah belajar melupakan dan selalu ditinggalkan
lalu aku, untuk sebuah keberangkatan
kurasa bukan lagi sejarah baru.

laut itu ibu, laut itu selalu memanggilku
aku seperti mencium tanah lain di kedalamannya
jika kelak mati –di tanah mana pun – aku ingin
berkubur di karang saja
sebab laut selalu jujur, di pantai mana pun kau berdiri
akan kau rasa warna yang sama. juga camar itu.

menangislah, dan sesalilah segala bernama masa lalu
karena pagi ini aku akan menulis sejarah baru
dan kelak, semoga tangismu mengembalikan aku
pada halamanmu dan api tungku

oh, laut mengapa mengambil segala yang sisa
dan menghanyutkan ke tempat jauh?
dan aku, si celaka ini diam-diam telah membenamkan
segala riwayat bersama sauh. laut mengajarkanku
untuk membakar segala biru. dan kapal ini
segala yang bernama pelayaran adalah jalan lain
membakar ingatan.

ii
kupasrahkan hidup pada yang baru
merawatnya sebagai kelahiran lain
sebab hidup meringsek maju dan aku, lelaki yang dibalur
dendam mengeja, ibu, pada setiap sudut jalan.

ini tanah lain yang kamu percaya sebagai rumah lain
padanya aku temukan wajah bapak yang lupa kau ceritakan
–duh, mengapa aku juga tak pernah mempertanyakan?
betapa sumbingnya kisah yang kau gariskan di tubuhku.

di pantai yang lain kutanam riwayat baru di pasir yang sama pucatnya
kukirim kenangan yang bersisa kepadamu
semoga laut akan sampai padamu dan membisikkan diam-diam
lewat sepotong malam yang kau rawat di kolong ranjang.
kuproklamirkan kesendirian ini tanpa bendera
dan tanda cinta. Dengan sisa jahitan luka
cukuplah kupetakan nasib sendiri
padanya segala masa depan kukaitkan tanpa sisa.

iii
bukankah sudah sejak lama kau kehilangan?
aku tak menumbuhkan apa yang sempat padam ibu
jika itu membuatmu nyeri, membuatmu perih
hapuslah aku dan sudahi saja si celaka ini
sebab darimu segalanya dan engkaulah yang kelak mengambilnya

aku tak menemukan lagi anakku,
siapa yang telah menguburnya di pulau lain? ia yang sempat
memeras habis susuku menyudahi kisah tentang kami.
celaka, celakalah ia yang durhaka.”

siapa sebenarnya yang durhaka? tak kau ajarkan aku
tentang dosa dan rindu
selain patahan ranting, deru ombak, merawat dendam
“jangan tersedu, sebab lelaki dilahirkan bukan untuk itu
sebab bapakmu, dulu sambil tersedu menumpangkanmu di rahimku
tapi begitu saja ia berlalu.”
katamu dulu
lalu aku belajar kejam pada yang bernama kehilangan dan masa lalu

celaka? siapa yang celaka sesungguhnya?
dulu aku tak minta dilahirkan. dengan melupakanmu
aku berharap masa lalu segera padam. tapi kau tak kunjung hilang ibu.
maka, izinkan aku mencintaimu dengan kesombongan ini
agar semua terlunaskan
agar dendam terbayarkan

pada jejakmu yang membatu, pohonpohon tumbuh serupa lelatu
dan ibu, tak pernah sangsi anakku, atas segala nasib buruk.
jika kesenangan mengembalikan dirimu pada yang paling jahiliah
sungguh, ibu tak rela.”

tidak ada yang pulang sebenarnya, ibu
tubuhku, kapal baru yang dimuati segala baru
dengan tanah lain yang melulu biru

bukankah ibu, tak pernah mengambil
apa pun setelah semua dilahirkan?
ia yang sungai, mengembalikan semua ke laut jua.
lalu aku, si anak hilang, kau kalungkan sumpah dan petaka.”

setiap kehilangan adalah satu kepulangan lain
dan kau tak pernah pergi sesungguhnya.”

keberangkatan, adalah kehilangan.
juga aku.”

sungguh celaka.”

celakalah, enyahkan aku dari hidupmu
dari hasrat dan rasa malu

kukembalikan kau pada segala asal
pada segala kepulangan.”

inilah aku si celaka itu
yang kekal oleh hasrat dan rasa malu.



Yogyakarta, 2007

Catatan:
Puisi ini adalah tafsir atas legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat


Tentang Penyair
Indrian Koto, lahir 19 Februari 1983, di Teratak, sebuah desa kecil di pesisir selatan Sumatera Barat. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini bergiat di Rumah Lebah dan Rumah Poetika. Karya-karyanya, baik yang berupa puisi maupun cerpen, tersebar di beberapa media massa, seperti Suara Karya, Kompas, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Kedaulatan Rakyat, serta beberapa antologi bersama.


Sabtu, 15 Agustus 2009

cien annos de soledad (2)

malam itu, setelah menyisir sekujur malioboro dari arah utara ke selatan, mengamati riuhnya transaksi pasar di sepanjang jalan yang menjadi salah satu ikon legendaris kota jogja itu, aku duduk sendirian tepat di depan bangunan gedung agung yang berseberangan dengan benteng vredenburg. sendirian tanpa kawan bercengkrama, di tengah ribuan manusia yang tumpah ruah di ujung malioboro itu, ada sunyi yang tibatiba merasuk, menusuknusuk kesadaran eksistensialku. kau tahu, betapa kesendirian tak jarang menumbuhkan kerentanan di hati anak manusia. kegilaan seringkali datang menyergap saat manusia lengah dalam kesendiriannya, saat ia tenggelam dalam kesunyian yang terlampau dalam. ah, tapi beruntung kau hadir lewat puluhan sandek (pesan pendek) yang tak lelahlelahnya kau kirimkan padaku, malam itu. setidaknya aku bisa bercerita padamu tentang kesunyiaan itu, tentang kesendirian itu, dan kau menyimaknya dengan sepenuh rasa di hatimu...


di antara ribuan orang yang hirukpikuk di sekitarmu, menjalani hidup dalam hening dan sunyi bisa jadi adalah sebuah paradoks. tapi hati manusia, siapa pun ia adanya, memang ditakdirkan untuk eksis dalam sebuah kesunyian. maka, ia yang lebih banyak mengikuti, mendengarkan, dan memanjakan suara hatinya, harus merelakan diri untuk berada dalam laku kesunyian. (ah, aku teringat lelaki bernama vasudewa, si tukang sampan dalam cerita novel siddharta gubahan hermann hesse, yang menghabiskan hidupnya seorang diri dalam kesunyian hutan dan sungai, dan memilih belajar tentang kebijaksanaan dan misteri kehidupan kepada sang sungai.) berbahagialah ia yang mampu menikmati kesunyian…


saat malam mulai beringsut menuju pagi, di tengah dinginnya kabut yang turun menyelimuti, aku menggigil kedinginan –sayangnya, juga makin kesepian. aku bayangkan andai kau ada di sini, duduk tepat di sampingku, tentu kita akan bercengkrama, bercerita entahapasaja, untuk melewatkan malam bersama, mengusir sepi dan sunyi ini bersama. ah, tapi bahkan aku tak cukup bernyali untuk bersua denganmu di alam nyata, dan lebih memilihmu hadir dalam maya. mungkinkah aku takut bahwa kau akan mencuri sunyi dan sepi yang telah menjadi milikku ini, menjadi takdirku ini. karena, perlu kau tahu, meski kadang aku takut dan benci pada sunyi dan sepi itu, tak bisa kupungkiri bahwa aku juga mencintainya, menikmatinya, mencanduinya...

aku ingin seperti matahari, terus berpijar dalam kesendiriannya, dalam kesunyiannya...


aku suka pada mereka yang berani hidup

aku suka pada mereka yang masuk menemu malam


chairil anwar tak mengadaada saat ia menuliskan sajak prajurit jaga malam. malam, seperti kita tahu, adalah momen di mana kita dapat menjemput keheningan dalam doa, dalam simpuh sembah dan percakapan ilahiyah, dan masa di mana hati dapat bersuara dengan nyaring tanpa terganggu keriuhan aneka rupa manusia. sementara di ujung yang lain, malam adalah momen di mana kedurjanaan manusia acapkali terjadi: perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, mantra yang dirapal untuk mengirim tulah, dan lain sebagainya. maka, sebagaimana hidup yang tak lain adalah sebuah paradoks besar, malam adalah sebuah paradoks, dan berbahagialah ia yang mampu bertahan dan bermainmain di dalamnya…


kesunyian, kesunyian, kesunyian…

serasa aku telah hidup dalam seratus tahun kesunyian…


14 agustus 2009

cien annos de soledad (1)

Selalu saja ada yang menggelegak di dalam benak, bahkan di kala malam telah beringsut menyambut pagi sekalipun. Dan tentunya diri tak kuasa untuk terlelap dengan lekas meski kelopak mata bergelayutan lelah dan tubuh telah merebah di atas pembaringan. Terlebih bila mendapati seluruh orang di sekitar telah melelap diri menyelami mimpi, makin nelangsa saja rasanya diri ini. Kau bayangkan, betapa getir rasanya hidup bila hanya suara jangkerik yang merasuki telingamu, di setiap larutmalammu.


Ada yang tak henti berkecamuk dalam pikiran. Seolah hidup yang dijalani seharian, dari pagi hingga malam yang pekat, tak lekas tuntas. Selalu saja ada yang tak selesai dalam hari-harinya, dan menyisakan beban menggumpal yang menyumpal saraf-saraf otaknya. Memang, senantiasa ada yang tak selesai dalam hidup tiap orang. Tapi tiap-tiap kita selalu butuh jeda untuk sekedar mengendurkan hidup masing-masing yang menegang oleh beban keseharian. Tidur, bagi tiap makhluk bernyawa, sama berharganya dengan mengasup kalori dari kegiatan makan. Dan dalam tidur, orang menemukan jeda sekaligus momen indah menyelam dalam alam bawah-sadarnya.


Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam—kata sepenggal sajak Prajurit Jaga Malam ciptaan Chairil Anwar.


Diri bukan seorang “prajurit jaga malam”. Tapi bahkan si “prajurit jaga malam” agaknya akan bersua pula dengan titik kejenuhan di saat suatu hal telah menjelma rutinitas yang ajek, terlebih bila itu dilakoninya seorang diri dalam kelam malam, tanpa teman bercengkrama mengurai cerita, ataupun sekedar bermain domino dan catur (dalam satu sisinya, hidup bisa jadi memang tak ubahnya permainan domino dan catur; selalu bertautan, dan selalu bersua momen “skak”—juga “skakmat” yang mengakhiri kisahnya).


Tapi tidakkah hidup sejatinya memang sebuah laku kesunyian. Tak peduli seberapa pun dekat hubungan kita dengan orangtua, handaitaulan, juga teman, selalu saja terasa ada banyak hal yang kita tanggung sendirian. Tiap hari kita senantiasa berkomunikasi dan berbagi, juga saling mengurai cerita sekedar melupakan kesumpekan hidup, tapi selalu saja ada yang tak tuntas dan tetap harus kita tanggung seorang diri. Bahkan, agaknya, ada lebih banyak hal yang harus kita tanggung sendirian dibanding yang mampu kita bagi dengan sesama. “Di dunia ini, manusia tidak berduyun-duyun lahir ke dunia… dan berduyun-duyun pula pulang… seperti dunia dalam pasarmalam,” tulis Pram dalam Bukan Pasarmalam. Tiap kita, memang, dilahirkan seorang diri, dan lebih banyak menanggung beban hidup sendirian, merasakan sekarat maut pun sendirian (bahkan biarpun kematian datang dalam rupa musibah besar yang merenggut nyawa secara berjamaah, nampaknya kita tetap tak bisa turut merasakan sekarat orang lain; hanya akan kita rasai sekarat sendiri).


Agaknya hidup memang sebuah kegetiran, biarpun ada yang mengatakan hidup adalah anugerah. Dan tidakkah laku manusia sepanjang hayatnya senantiasa berusaha menghiburi diri dengan segala cara untuk menghindari kegetiran, juga kesunyian, yang menjadi takdirnya. Kerja, bersenang-senang, ritual ibadah, dan segala rupa penyaluran minat, bukankah itu sejatinya merupakan usaha manusia meringankan kesunyian dan kegetiran hidupnya.


Viktor Frankl, seorang dokter yang nyaris binasa di dalam kamp penyekapan rezim Nazi, menyebut manusia dengan istilah homo patiens: makhluk yang berusaha tabah menanggung sunyi dan getirnya hidup. Bukan sehebat dalam istilah homo sapiens yang seakan-akan menyiratkan bahwa manusia punya kuasa sepenuhnya untuk menyusun skenario hidupnya, seperti dimaklumatkan para filsuf renaisans. Selalu saja ada yang luput dari tiap usaha kita dalam hidup; selalu saja ada yang tak terjangkau kemampuan manusia; selalu saja ada sunyi dan getir yang merasuki hidup.


Kesunyian adalah nasibmu,” kata secuplik kalimat dalam Novel Without a Name yang bertutur seputar Perang Vietnam karya Duong Thu Huong. Siapa sangka, bahkan dalam kesolidan dan kekompakan regu serdadu di tengah hirukpikuk di medan pertempuran, Quan, si tokoh-utama dalam kisah tersebut, tak jua kuasa mengelak dari deraan kesunyian nun jauh di lubuk batinnya.


Hidup memang sebuah laku kesunyian, setidaknya di dalam batin masing-masing…[]


november 2008

nangis

-hidup yang makin berasa absurd


Sebenarnya, saya ingin menangis untuk segala kesakitanku. Tapi aku ragu, sanggupkah airmata, dalam jumlah meruah pun, menghapuskan sumber segala laraku. Aku bertanya-tanya, layakkah hidup disebut sebagai sebuah anugrah bila yang ada hanya derita tanpa sudah. Masih patutkah hidup disyukuri, dan “Tuhan” diimani untuk selanjutnya disanjung-puji dalam tiap sembahyang serta untaian doa, saat yang tercecapi hanya pahitnya rasa di sekujur usia.


Membicarakan hidup, membincangkan “Tuhan”, dan menguraikan derita ke dalam kata-kata, mungkin hanya akan menghabiskan terlampau banyak energi yang sayangnya akan berakhir sia-sia belaka. Tapi hidup bisa jadi memang tak lebih dari menjalani segala kesia-siaan guna melupakan kesakitan kita yang akan makin terasa sakit apabila kita hanya berdiam diri laiknya berhala. Kau boleh bandingkan hidupmu, yang riuh dan hiruk-pikuk oleh segala rupa aktivitas, dengan hidup para pesakitan, para pengungsi korban keganasan alam atau peperangan, ataupun orang-orang yang terlahir lumpuh dan menghabiskan sepanjang hayatnya dalam ketidakberdayaan. Kau akan dapati betapa segala kesibukan tubuh dan pikiranmu, lepas dari betapapun absurdnya hidup ini sesungguhnya, membuat hidupmu masih jauh lebih beruntung: kau bisa melupakan kesia-siaan hidup ini dengan segala kesibukanmu; kau tak lagi sempat menyadari betapa hidup ini mungkin cuma sandiwara kosong belaka (Siddharta menyebut hidup sebagai kasunyatan atau kekosongan, dan belakangan dengan metode Quantum dan Relativitas dalam Fisika Baru ditemukan bukti yang seayun-sejalan: dalam aras sub-atomik, apa yang kita sebut sebagai “ruang” dan “waktu” tak lebih dari sebuah ilusi indriawi-dan-pikiran (tubuh) belaka).


Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa di dunia ini mesti ada makhluk yang sanggup mengalami evolusi fisik dan kesadaran yang, sayangnya, pada akhirnya membuat dirinya merasakan betapa susah dan tak adilnya hidup ini? Menjadi binatang, tetumbuhan, ataupun bebatuan, bukanlah sesuatu yang buruk. Tapi menjadi “binatang berkesadaran” (animal rationale, kata Aristoteles) adalah sebuah beban berat saat hidup tidak terselenggarakan di “surga” (terlepas seperti apapun persepsi kita tentangnya) melainkan di permukaan sebutir planet mungil (di antara benda-benda angkasa lain yang tak terbilang jumlahnya) dengan suasana yang menggetirkan dan dari hari ke hari makin terancam dan muram oleh tingkah-polah si “binatang berkesadaran” itu sendiri (dunia tak menjadi lebih buruk hingga muncul makhluk yang menakjubkan tapi sekaligus juga menyeramkan yang disebut “manusia”—si “binatang berkesadaran” itu).


Konon, menurut Sigmund Freud, penderitaan manusia datang dari tiga arah: (1) gerak-gerik alam yang tak sepenuhnya dapat ditundukkan, (2) tubuh yang memang fana, yang menjadi sumber kenikmatan sekaligus kesakitan, dan (3) hubungan dengan sesama manusia. Untuk yang pertama, sekedar sebagai contoh, masih segar dalam ingatan kita betapa ratusan ribu nyawa terampas putus oleh sapuan Tsunami di Aceh, dan ratusan ribu lainnya mesti melanjutkan hidup dalam nestapa dan trauma setelah keluarga dan harta-bendanya raib dengan cara amat mengerikan. Untuk yang kedua, segala rasa nikmat ataupun sakit hanya berasal dari tubuh, karena tubuh adalah satu-satunya media bagi segala pengalaman manusia (Heidegger menyebut manusia dengan istilah dasein—makhluk yang ”senantiasa-ada-dalam-dunia”; Faucoult mengatakan bahwa tubuh adalah satu-satunya obyek bagi hukuman maupun represi). Selama masih hidup, tak satu pun manusia kuasa menghindar dari segala penderitaan yang bermuasal dari tubuhnya. Untuk yang ketiga, yang terkait dengan hubungan dengan sesama manusia, bisa dikatakan bahwa hubungan antar manusia, sepanjang sejarah yang kita ketahui, sama sekali tak bersih dari kesalahpahaman, penindasan, ketidakadilan, perang, dsb; singkatnya, tak bersih dari bercak noda dan darah. Makin banyak jumlah populasi manusia di muka bumi, makin rumit pula kehidupan ini bagi kita. Mengatur hubungan dengan dua orang, misalnya, tentu, bagaimanapun juga, akan jauh lebih gampang dibanding mengatur hubungan dengan dua ratus atau dua ribu orang (dan celakanya penduduk bumi saat ini telah melewati angka enam miliar!).


Kisah metaforis kejatuhan Adam dan Hawa yang diwariskan turun-temurun dalam kredo tiga agama arus-utama (Yahudi, Kristiani, dan Islam) setidaknya menegaskan bahwa hidup di dunia ini, tak lain dan tak bukan, memang “sebuah hukuman”. Biarpun tiga agama itu juga menegaskan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang paling sempurna, paling istimewa, yang jadi “wakil Tuhan di muka bumi”, juga memaklumatkan bahwa hidup adalah sebuah anugrah, tapi ketiga agama tersebut juga tak bisa dengan entengnya mengaburkan makna tentang kisah metaforis kejatuhan Adam-Hawa yang dituturkannya sendiri itu (barangkali memang tak ada kumpulan teks yang isinya saling menyanggah, saling bertolak-belakang, melebihi apa yang kita sebut sebagai “kitab suci”. Dalam hidup keseharian, kita dapati bukti bahwa agama bisa menjadi “madu” tapi dapat pula menjelma “racun”. Banyak kebajikan yang terinspirasi ajaran agama, banyak pula angkara-murka yang dilegitimasi oleh teks-teks agama. Tak ada yang lebih membingungkan daripada apa yang kita sebut sebagai “sabda Tuhan”. Entah, seberapa penting arti agama bagi manusia di abad ini, saya tak begitu tahu).


Baiklah, mungkin gagasan yang kuuraikan berjalan terlampau jauh. Tapi, ya, gagasan! Itulah kata kuncinya. Manusia hidup dengan gagasan yang beraneka ragam. Dan gagasan selalu bertautan dengan pengalaman dan pengetahuan. Sebagai makhluk bertubuh dan berkesadaran, kita memang tak bisa luput dari pengalaman dan pengetahuan yang mencetuskan gagasan. Dan segala rupa gagasan, tentang apapun itu, tak ada yang absolut—segalanya serba relatif, tak ada yang pasti, sebagaimana kemampuan manusia yang dibatasi oleh tubuh, dan seperti halnya dunia yang tetap tak ubahnya terra incognita, “area asing”.


Mungkin karena itulah, ajaran-ajaran kebijaksanaan dari Dunia Timur, semisal Budhisme, Zen, Tao, dan Sufisme dari berbagai agama, menganjurkan manusia untuk melepaskan segala gagasan, segala pemikiran, mengenai hidup, dan menyisakan bagi hidup ini hanya penghayatan semata: merasakan kebersatuan/kemenyatuan diri dengan semesta raya yang maha tak terkira agungnya, bahwa manusia yang teramat kecil dan lemah ini juga bagian tak terpisahkan dari alam semesta yang tak terpermanai besarnya. Tapi, lagi-lagi, di zaman penuhanan rasio, ditambah lagi tafsir konvensional monoteisme tiga agama arus-utama yang juga rasio-sentris, tidakkah ajaran-ajaran kebijaksanaan itu tak lebih dari pepesan-kosong belaka untuk dipraktekkan dalam hidup sehari-hari?!


Barangkali, saya sebenarnya hanya butuh menangis untuk segala kesakitan saya, tapi sayangnya saya tak jua kuasa untuk meneteskan airmata. Maka lahirlah gagasan-gagasan yang berlalu –lalang di dalam kepala ke dalam catatan ini. Kita, bisa jadi, memang cuma perlu tawa dan tangis sebagai wujud apresiasi bagi hidup ini, karena hidup memang serba ambigu, tak pasti! Ya, menangis, sebagaimana tertawa, bisa mengendurkan otot-otot psikis yang sedang menegang oleh beban hidup dan kesakitan.


Saya cuma perlu tertawa dan menangis, seabsurd apapun hidup ini terasa…[]

februari 2009

it's my life

hidupku adalah pencarian sesuatu yang pernah kumiliki namun kini hilang,

hidupku adalah berdiri di persimpangan, di mana setiap jalan yang tersedia terlihat sebagai sebuah ketidakpastian untuk sampai di tempat tujuan,

hidupku adalah sebuah pendakian, yang selalu kutemui jalan-jalan terjal berbatu berliku dengan jurang-jurang menganga teramat dalam di kanan-kiriku, dan mesti kuberanikan diri untuk dapat menggapai puncak,

hidupku ada dalam penjara yang mengekang, dan aku tengah menunggu saat-saat bahagia di mana kebebasan akan datang, segala kewajiban akan sirna, dan aku hidup penuh kedamaian dan kebebasan tanpa ada lagi aturan ini-itu,

hidupku adalah sebuah persaingan tanpa henti, di mana aku dan manusia-manusia lain saling berebut mengisi dunia dengan karya masing-masing dan meminta imbalan dari dunia untuk karya-karya itu,

hidupku adalah sebaran titik-titik, di mana setiap titik punya koordinatnya sendiri-sendiri, namun semua memiliki keterkaitan dalam selembar bidang, dan akan menjadi sebuah bentuk yang indah bila satu sama lain dirangkaikan dengan tepat,

hidupku merupakan sebuah medium tempat hal-hal yang berlawanan datang silih berganti dengan saling meniadakan satu sama lain: kecerdikan dan kepandiran, dukalara dan sukacita, semangat dan kemalasan, ambisi dan kepasrahan, terang dan kegelapan, serta semua hal yang tak bisa kusebut satu persatu namun nyata adanya,

hidupku kadang sebuah khayalan-khayalan yang menerawang jauh ke depan, hingga membuatku bagai orang gila: membayangkan gunung tak berpuncak, laut tanpa pantai, sungai yang tak bermuara, dan jalan-jalan yang tak memiliki ujung dan persimpangan,


hidupku sekali waktu seperti burung-burung yang terbang bebas ke sana-kemari, berkelana dalam birunya langit dan bermandikan angin-angin yang bertiup menerpa tubuhnya, menghirup udara biru sepuas-puasnya, namun kadang pula kurasakan hidup yang bagai ular-ular melata, bergerak dari satu kegelapan lorong menuju lorong-lorong lain yang tak kalah gelapnya, dan membuat hidupku sesak oleh pekatnya bau tanah (tapi aku sendiri berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah),


di satu waktu hidupku selalu mengekor adat kebiasaan nenek moyang, tanpa sedikit pun berpikir untuk membantah, seperti sepucuk daun terapung di atas air sungai yang mengalir deras,

di lain waktu aku hidup dengan melawan budaya-budaya dan dogma kuno para leluhur yang bagaikan lorong-lorong gelap dan pengap, meskipun banyak orang akhirnya menuduhku sebagai pembangkang pembawa sial,


masa-masa dalam hidupku lebih banyak kuhabiskan untuk merubah-rubah warna dalam satu lukisan kehidupan, bukan untuk mencari kanvas mana lagi yang mesti kulukisi dengan gambar obyek baru,


hidupku kadang menoleh ke belakang, melihat apa-apa yang telah berlalu sebagai bahan-bahan yang akan kugunakan untuk mereka-reka sebuah ketidakpastian di depanku yang sama sekali tak terjangkau nalar dan inderawiku,

hidupku kadang bagai beban berat yang menindihku kuat-kuat, menerobos kulit bumi hingga aku terjebak dalam ruang pengap dan gelap tak berjendela,

tapi kadang juga hidupku bagai balon udara yang menyeretku terbang melayang menikmati kebebasan bernapas dan membuatku gembira pada pemandangan di bawahku namun dengan diikuti perasaan getir takut jatuh,


hiduku adalah ketakutan pada hantu-hantu putus asa dan kemalasan yang selalu bergentayangan di hadapan wajahku, dan hidupku juga harapan pada setitik api yang dapat membakar gairah kehidupanku dengan menghanguskan terlebih dahulu hantu-hantu gentayangan itu,


hidupku? terlampau rumit untuk dapat kuuraikan satu persatu tanpa aku mengalami kebingungan sendiri...

Jumat, 14 Agustus 2009

a new day, a new way to love..

Kelu lidahku mendengar kata pisahmu

Jeda detak jantungku saat kau ingini

membuyarkan semua mimpi yang mulai menari..


Aku tak pandai bercumbu dengan ketiadaan

Laiknya para pemeluk teguh bersimpuh tenggelam

dalam ekstase cinta ilahiyah..


Maka ijinkan aku mencintamu

Mencumbumu dalam hening ciptaku

Bila bukan wujudmu biarlah bayangmu belaka

aku rela...



Kamis, 13 Agustus 2009

Strange foreign beauty
I'll never know whats in your heart
Does anyone know how it feels to hold you
Does anyone know the secret of your mind

Strange foreign beauty
Ill never come to share your world
Does anyone know how it feels to live with you
Does anyone know the secret of your life

Strange foreign beauty
You'll never know what I felt for you
Sometimes it feels like a million chances
Are slipping away disappearing in the air


you'll never know what I felt for you
You were always on my mind
I'll never know how it feels to hold you
How it feels to be with you

Senin, 10 Agustus 2009

mungkin sempat kau baca..

Di dunia ini, aku telah belajar menghafal kata 'welcome' dan 'goodbye'.. karena aku percaya, hidup hanya berkisar dalam 2 kata tadi. pagi ini, kamu datang seperti biasanya. Entah sekedar mengantar senyum atau memberi ucapan selamat pagi. Tapi aku membalasnya dengan ucapan selamat pergi. Jangan datang lagi. bukan bosan atau muak dengan semua yang maya padamu. Hanya saja aku selalu menjaga jarak pada ketergantungan dan ekstase. Aku tak ingin mati tercandu sesuatu, apalagi karena hal gila seabsurd yang kita punya.


untuk bersamaku, kau harus sekuat karang. kau harus mampu menaklukkan aku, tentu setelah kau melakukannya pada dirimu sendiri. Namun aku tak yakin kau mampu melakukannya. tak ada yang bisa melakukannya. Telah banyak kisah 'datang-pergi' seperti ini. dan bagiku, ini hanya ulangan masa lalu. yang menghampiri lalu terhempas begitu saja. Percayalah, bukan aku yang menginginkannya. Dunia ini riil, sayangku, senyata kau yang seharusnya bisa menjabat tanganku dan tersenyum menyebutkan nama. Tapi kau tak memilih melakukannya. Kau ingin tetap menyelimutiku dalam imajinasimu sendiri, sementara realita terus menghisapku pada porosnya.


jika ini memang sungguh cinta,
kau tahu di mana bisa menemukanku,
dan menjabat tanganku..
untuk mulai menyebut nama..


kesempatan tidak datang menyapamu,
kamulah yang harus membuatnya
kamulah yang punya kuasa untuk memilih melakukannya,
atau..
melupakannya saja...

Sabtu, 08 Agustus 2009

Sebuah ‘kecantikan’ dalam banalitas (pos)modernisme

Abad yang bergelimangan dengan citra dan tanda ini telah sempurna dengan erat jejaring antarmitos. Konon, manusia sebagai pencipta segala peradaban pun tak kuasa untuk tidak menaklukkan diri di bawah pengaruhnya. Ambillah sebuah contoh istimewa: the power of beauty! Kita semua (sebagai para konsumen naif kapitalisme dan segala mitos mengada-adanya) telah sama paham bahwa jargon tersebut adalah sebuah tagline produk sabun kecantikan. Perempuan--sebagai objek penderita kata sifat berupa ‘cantik’—harus segera melebur diri dalam standart ‘kecantikan’ yang digembar-gemborkan semua produk kecantikan lewat media. Bahwa cantik adalah putih, cantik adalah mulus, lembut, dan anti menjadi tua. Semua yang kontras dengan hal-hal alamiah. Oleh karena kebutuhan menjadi cantik itu tidak tersedia secara alamiah, maka penting kiranya menetapkan standar cantik yang akan dipakai sebagai parameter, tentu saja berikut solusi instannya. Alhasil, berlebih-lebih produk perawatan kulit di pasaran: sabun X menjadikan kulit lebih putih dalam waktu 2 minggu; krim Y menjadikan kulit tampak lebih muda; lotion Z menghindarkan anda pada masalah penuaan dini, dsb.


Dan berjalanlah anda sekalian dalam ingar-bingar pusat perbelanjaan, di sudut sana dan di pojok sini niscaya akan anda temui muda-mudi maupun ibu-ibu dalam sebuah format kecantikan yang tidak asing, sangat akrab, karena homogen. Kecantikan yang terstandarisasi: rambut lurus rebonding, kaos seksi pressed-body, muka putih pucat a la make up full merkuri. Etalase ‘cantik’ yang berjalan hilir mudik. Jalan-jalan ramai adalah panggung catwalk, tempat mempertontonkan berbagai hasil kerja produk kecantikan. Entah siapa yang melestarikan standart ini. Mungkin media dan antek-antek kapitalismenya. Atau mungkin para perempuan lah yang tak berkeberatan menjadi tumbal sekaligus korban penikmatnya. Saya sendiri memandang bahwa menjadi cantik adalah sebuah mitos yang sarat kamuflase. Menjadi cantik versi iklan adalah pembodohan dan pendangkalan. Pun penyangkalan atas keberagaman dan kealamiahan sebuah perbedaan. Lihatlah senyum pada wajah-wajah yang tlah disuntik botox itu, kulit yang tak berkerut, expressiveless. Manekin-manekin seputih porcelain, mengkilat, a shiny toy!! Rapuh, dingin, hambar, datar!! Tak lagi bernyawa, soulless!! Perempuan-perempuan produk budaya capital modernis memoles diri mereka sesempurna mungkin. Hilang segala noda atau flek hitam pada wajah putih pucat yang siap ditaburi segala warna itu. Kecantikan palsu yang bagaimanapun hebatnya akan terkikis oleh waktu. Kecantikan superficial yang nihil daya hidup oleh karena bergantung pada senyawa kimia demi memikat pria. Dengan demikian perempuan telah memposisikan diri mereka di sana, menghamba pada lirikan pria dalam balutan superfisialitas. Hidup mereka menjadi berorientasi pada pengejaran arti cantik itu: cantik yang terstandarisasi!!



Lalu siapa bilang jaman posmodernisme ini mencerdaskan semua orang? Jaman di mana keberlainan adalah anomaly. Jaman di mana semua tanda menjadi anakronisme yang menisbikan perbedaan. Jaman tak bernama, tak pernah cukup dengan satu nama. Namun apapun nama jamannya, kapitalisme tetap saja jadi pahlawan!! Pahlawan!! Pahlawan!!

In the name of this holy shit postmodernism : welcome to the simulated reality my friends!!

Maya...

Kau lihat di sana, bulan sepenuh senyummu. Tapi kita begitu berbatas, antara malam dan siang. Antara nyata dan maya, namamu. Engkau yang datang dalam hidupku bagai kilat. Dan hujan. Dan bungabunga. Dan embun.. dan ruh, melayang-menghilang.

Seandainya kau mampu ku ikat dalam sebuah tali ikatan konvensional semacam pernikahan. Seandainya akta nikah terbitan Departemen agama itu mampu merengkuh kelopak hatimu. Seandainya dunia imajimu mampu ku perkecil menjadi semikro inginku, yang hanya menginginimu ada di sini, bersamaku selamanya. Seandainya itu semua mungkin, akankah kau bersedia runtuhkan dunia yang selalu kau jaga sendiri itu. Bersediakah kau menyerahkan negeri dongengmu pada kenyataan ini, berdua kita akan membangun istana dari pasir pantai yang nyata. Keluar dari kungkungan imaji tak berbatasmu..

Kau, selalu mengharap dunia ini sebagai tempat bermain mencicipi segala rasa. Kau mencoba semua yang tak kau kenal. Betapa kau begitu gagah berani bertaruh dengan realita. Tak pernah hirau dengan segala hiruk pikuk di dalamnya. Tetapi tahukah kau sayangku, engkau hanya sedang kesepian di sana. Di dunia neverland-mu itu. Maka ijinkanlah aku membawamu keluar dan mengabarkan bahwa ada seseorang yang sungguh mampu mencintaimu sepenuh perasaannya. Aku.

Engkau selalu menjaga jarak dengan kata ‘possession’. Engkau mengklaim diri sebagai beautifully no man’s land. Ah sayang, aku takkan keberatan menjadi the only man bagi surgamu. Di manapun itu. Tidakkah kau suka cokelat seperti para perempuan menor genit di jalan itu. Atau sekuntum mawar untuk para puteri? Katakan padaku apa yang kau suka, jelita, sebab aku tak punya indera untuk membaca apa yang tersimpan dalam anganmu.

Jangan hanya tersenyum memandang mata jauhku darimu. Ini, raihlah pelukku. Gamitlah lenganku. Mari berjalan di antara pepohonan atau gunung-gunung. Mari menari dalam kenyataan yang tak selalu sesempurna dunia-entah-dimanamu. Mari mewujudkan semua inginmu. Mari menjadi. Menjadimu dan ku, dalam satu.

Maya,

Puisi..

Bunga,

Cinta,

Luka,

Serupakah semua?