Sabtu, 08 Agustus 2009

Absurdum Trivium

In a sense, and as in melodrama,
killing yourself amounts to confessing. It is confessing that life is
too much for you or that you do not understand it.

Albert Camus, “The Myth of Sysiphus, An Absurd Reasoning
Absurdity and Suicide.”

Seandainya saja aku bukan seorang yang mempunyai kepercayaan bahwa ada sebuah pertanggungjawaban sesudah mati, mungkin sudah sejak lama aku telah bunuh diri. Bagiku, hidup ini terlalu berlebihan, terlalu melodramatic, dan dalam sebagian besar darinya aku tidak mengerti apa-apa. Aku selalu merasa sendirian dalam kehampaan yang maha ini. sendirian bukan dalam makna fisik-material. Tapi dalam arti kesadaran akan ketiadaan, sekaligus keMaha-adaan dunia seisinya. Bahwa semesta tercipta, dan cerita 1001 malam manusia yang menjadi nomad dalam pengembaraannya adalah seperti mimpi yang aku segera ingin terbangun darinya. Lahir, tumbuh, berkembang, mencetak kenangan-kenangan, konflik-konflik, cinta-cinta, tragedy kemanusiaan, puisi, lagu-lagu yang terlalu indah untuk ditinggalkan, lalu pada akhirnya mati, meninggalkan semua. Sering aku tidak bisa menerima begitu saja kehidupan ini. Dan, selalu aku bersujud memohon ampun atas dosa tersebut, ketakmampuan mengafirmasi yang tlah terberi.

Konflik batin tak pernah berhenti berarak. Aku, Tuhanku, sebagaimana yang Engkau tahu, selalu terlalu logis dalam mempersepsi duniaMu. Dan mengapa harus Kau batasi apa yang tak boleh dan boleh terpikir oleh akal yang Kau beri kuasa untuk mempertanyakan segala hal ini. Mengapa kebebasan sekedar berpikir dan berlogika sebagai manusia ini pun pada akhirnya terkesan absurd? Mengapa aku tidak bisa menjadi fatalis dan titik. Stop.

Maafkan atas keluguan ini. Aku bukan hamba yang pandai menahan diri. Impulsivitas bukan sebuah penyakit alamiah yang mudah dicegah. Tapi sungguh, aku bahkan tidak berani mengakui kebenaran absolut. Mereka semua Tuhanku, mengaku yang paling benar sebagai pemujaMu. Dengan ritual, dengan pranata, dengan lidah yang sembarang mengutuk orang lain kafir masuk neraka. Apakah kebenaran itu, Tuhanku? Sedangkan interpretasi atas ayat-ayatMu pun bukan hal yang tunggal. Lalu bagaimana para petinggi agama akan menghukum para penanya sepertiku sebagai penyekutuMu? Bahwa sebuah pertanyaan adalah penyangkalan, demikian mereka berkata. Aku selalu yakin, akal ini Kau beri, agar komunikasi Tuhan-manusia bukan sebuah model komunikasi searah yang cenderung represif dan dominatif. Akal ini adalah alat rasional untuk lebih mengenalMu, agar komunikasi ilahiah ini menjadi dialogis. Begitu kan?

Dan apakah ‘kepercayaan’ itu adalah sebuah hal alamiah? Sehingga tak perlu kita menyalah-nyalahkan apa yang dipercayai orang lain. Bisakah kepercayaan dipaksakan? Seandainya di dunia ini hanya ada satu buah kebenaran singuler. Tetapi oh Tuhanku sungguh aku bukan seorang absolutis banal seperti itu. Sulit buatku mencerna sebuah kuasa kata BENAR. Seperti berat untuk seorang nyalang sepertiku mencintai kata dogma. Biarlah waktu yang mengarakku pada ujung pencarian panjang ini. biarlah kuasaMu yang menuntunku mengafirmasi sesuatu hal entah apa. Biarlah tangan semesta yang menjangkauku dalam pelukan nihil absurditasnya. Ataukah tiada hal lain di dunia ini selain semua yang absurd?? Belum juga kuputuskan menggurat urat nadi dan memutus tali nyawa. Meski kebenaran masih terserak entah dimana. Meski akalku belum juga tiba pada sebuah pengertian yang harusnya bisa membungkam semua tanya. Ku biarkan hidup terus berjalan, menunda akhir. Mengulur kepastian. Segala kemungkinan membuka diri: teruslah mencari..