Kau lihat di
Seandainya kau mampu ku ikat dalam sebuah tali ikatan konvensional semacam pernikahan. Seandainya akta nikah terbitan Departemen agama itu mampu merengkuh kelopak hatimu. Seandainya dunia imajimu mampu ku perkecil menjadi semikro inginku, yang hanya menginginimu ada di sini, bersamaku selamanya. Seandainya itu semua mungkin, akankah kau bersedia runtuhkan dunia yang selalu kau jaga sendiri itu. Bersediakah kau menyerahkan negeri dongengmu pada kenyataan ini, berdua kita akan membangun istana dari pasir pantai yang nyata. Keluar dari kungkungan imaji tak berbatasmu..
Kau, selalu mengharap dunia ini sebagai tempat bermain mencicipi segala rasa. Kau mencoba semua yang tak kau kenal. Betapa kau begitu gagah berani bertaruh dengan realita. Tak pernah hirau dengan segala hiruk pikuk di dalamnya. Tetapi tahukah kau sayangku, engkau hanya sedang kesepian di
Engkau selalu menjaga jarak dengan kata ‘possession’. Engkau mengklaim diri sebagai beautifully no man’s land. Ah sayang, aku takkan keberatan menjadi the only man bagi surgamu. Di manapun itu. Tidakkah kau suka cokelat seperti para perempuan menor genit di jalan itu. Atau sekuntum mawar untuk para puteri? Katakan padaku apa yang kau suka, jelita, sebab aku tak punya indera untuk membaca apa yang tersimpan dalam anganmu.
Jangan hanya tersenyum memandang mata jauhku darimu. Ini, raihlah pelukku. Gamitlah lenganku. Mari berjalan di antara pepohonan atau gunung-gunung. Mari menari dalam kenyataan yang tak selalu sesempurna dunia-entah-dimanamu. Mari mewujudkan semua inginmu. Mari menjadi. Menjadimu dan ku, dalam satu.
Maya,
Puisi..
Bunga,
Cinta,
Luka,
Serupakah semua?