Abad yang bergelimangan dengan citra dan tanda ini telah sempurna dengan erat jejaring antarmitos. Konon, manusia sebagai pencipta segala peradaban pun tak kuasa untuk tidak menaklukkan diri di bawah pengaruhnya. Ambillah sebuah contoh istimewa: the power of beauty! Kita semua (sebagai para konsumen naif kapitalisme dan segala mitos mengada-adanya) telah sama paham bahwa jargon tersebut adalah sebuah tagline produk sabun kecantikan. Perempuan--sebagai objek penderita kata sifat berupa ‘cantik’—harus segera melebur diri dalam standart ‘kecantikan’ yang digembar-gemborkan semua produk kecantikan lewat media. Bahwa cantik adalah putih, cantik adalah mulus, lembut, dan anti menjadi tua. Semua yang kontras dengan hal-hal alamiah. Oleh karena kebutuhan menjadi cantik itu tidak tersedia secara alamiah, maka penting kiranya menetapkan standar cantik yang akan dipakai sebagai parameter, tentu saja berikut solusi instannya. Alhasil, berlebih-lebih produk perawatan kulit di pasaran: sabun X menjadikan kulit lebih putih dalam waktu 2 minggu; krim Y menjadikan kulit tampak lebih muda; lotion Z menghindarkan anda pada masalah penuaan dini, dsb.
Dan berjalanlah anda sekalian dalam ingar-bingar pusat perbelanjaan, di sudut sana dan di pojok sini niscaya akan anda temui muda-mudi maupun ibu-ibu dalam sebuah format kecantikan yang tidak asing, sangat akrab, karena homogen. Kecantikan yang terstandarisasi: rambut lurus rebonding, kaos seksi pressed-body, muka putih pucat a la make up full merkuri. Etalase ‘cantik’ yang berjalan hilir mudik. Jalan-jalan ramai adalah panggung catwalk, tempat mempertontonkan berbagai hasil kerja produk kecantikan. Entah siapa yang melestarikan standart ini. Mungkin media dan antek-antek kapitalismenya. Atau mungkin para perempuan lah yang tak berkeberatan menjadi tumbal sekaligus korban penikmatnya. Saya sendiri memandang bahwa menjadi cantik adalah sebuah mitos yang sarat kamuflase. Menjadi cantik versi iklan adalah pembodohan dan pendangkalan. Pun penyangkalan atas keberagaman dan kealamiahan sebuah perbedaan. Lihatlah senyum pada wajah-wajah yang tlah disuntik botox itu, kulit yang tak berkerut, expressiveless. Manekin-manekin seputih porcelain, mengkilat, a shiny toy!! Rapuh, dingin, hambar, datar!! Tak lagi bernyawa, soulless!! Perempuan-perempuan produk budaya capital modernis memoles diri mereka sesempurna mungkin. Hilang segala noda atau flek hitam pada wajah putih pucat yang siap ditaburi segala warna itu. Kecantikan palsu yang bagaimanapun hebatnya akan terkikis oleh waktu. Kecantikan superficial yang nihil daya hidup oleh karena bergantung pada senyawa kimia demi memikat pria. Dengan demikian perempuan telah memposisikan diri mereka di sana, menghamba pada lirikan pria dalam balutan superfisialitas. Hidup mereka menjadi berorientasi pada pengejaran arti cantik itu: cantik yang terstandarisasi!!
Lalu siapa bilang jaman posmodernisme ini mencerdaskan semua orang? Jaman di mana keberlainan adalah anomaly. Jaman di mana semua tanda menjadi anakronisme yang menisbikan perbedaan. Jaman tak bernama, tak pernah cukup dengan satu nama. Namun apapun nama jamannya, kapitalisme tetap saja jadi pahlawan!! Pahlawan!! Pahlawan!!
In the name of this holy shit postmodernism : welcome to the simulated reality my friends!!