Rabu, 19 Agustus 2009

cien annos de soledad (3)

[ sunyi dalam segelas anggur ]

Suatu tengah-malam yang sepi, di dalam bilik kosanku, seorang diri aku menenggak segelas anggur merah sembari menghisapi berbatang-batang sigaret kretek mild. Bukan sebuah kegemaran, juga bukan sebentuk ketagihan, yang membuatku mesti melakoni semacam ritual untuk barang dua-tiga jam “meninggalkan alam nyata” guna “menerobos masuk dunia maya” lewat pengaruh minuman beralkohol malam itu. Memang, itu bukan pertama kalinya, namun sudah yang kesekian kalinya, aku mereguk minuman yang mengandung salah satu “zat surgawi” itu. Sudah setahun terakhir ini aku mulai kenal dengan redwine. Namun, sekali lagi, itu bukan sebentuk ketagihan –setidaknya, bukan ketagihan yang akut. (Ah, kau jelas benci dengan segala hal yang membuat orang kecanduan, dan benci pula kau pada orang yang kecanduan ;-p)


Satu alasan yang mungkin – dan semoga saja – bisa diterima adalah: saya terlampau merasa penat dan sesak dan muak dengan beragam realitas yang saya jalani dan temui, selaksa mereka adalah badai yang menghempas jiwa saya dari ketenangan dan keheningan hidup, menyeret saya jauh meninggalkan garis orbit di mana seharusnya saya beredar. Maka, dengan mengonsumsi barang seteguk-dua minuman beralkohol, segala penat, sesak dan muak itu menjadi sirna, dan, ini yang sesungguhnya terpenting, otot-otot psikis saya yang semula menegang bisa mengendur untuk kembali melakoni ritus keseharian esok paginya dengan sebuah senyuman puas dan bergas.


Saya tahu, alkohol punya efek samping yang merusak. Efek yang paling nyata dari reaksi alkohol di dalam tubuh adalah meningkatnya temperamen dan rasa percaya diri akibat mengendurnya “rem-rem psikis” (atau bisa juga disebut superego dalam terminologi Freudian). Akibatnya, banyak kasus kriminal ekstrim yang dipicu oleh pengaruh alkohol di dalam tubuh si pelaku. Bahkan, ada rumor menggelikan yang menyebutkan bahwa keputusan Saddam Hussein untuk menginvasi Kuwait pada tahun 1991 itu diambil di tengah-tengah suasana pesta minuman keras yang ia gelar bersama para punggawa Irak di istananya yang megah. Mengingat efek buruk alkohol bagi “akal sehat” manusia itulah maka tak heran bila agama-agama Ibrahimiyah (Monoteisme) mengharamkan kepada umatnya untuk mengonsumsi minuman beralkohol. Demikian pula dengan kebijakan hampir seluruh negara di dunia yang cenderung melarang, atau minimal membatasi, peredaran minuman beralkohol di tengah-tengah masyarakatnya.


Dus, untuk menghindari efek destruktif seperti yang telah kujabarkan di atas, saya dengan sengaja memilih untuk menggelar “ritual gaib” dengan menu redwine itu di dalam kamar, seorang diri. Saya selalu mendem seorang diri, dan tak pernah melakoninya secara berjamaah dengan kawan-kawan saya. Lagipula, seperti mungkin telah kau ketahui, aku bukan tipikal “manusia gerombolan” yang gemar dengan konformitas banal atas-nama kesetiakawanan sosial. Sebaliknya, seperti telah kupaparkan padamu tempo hari, aku selalu menjalani hidup dalam sunyi dalam sepi: dalam kesendirian! (Oh, aku jadi teringat sandekmu tempo hari itu: “kau hanya kesepian dan butuh teman, sebab itu kau kesakitan,” katamu. Aduhai…betapa kau mampu mendiagnosa diriku... Tapi andai kau tahu, betapa kehadiran teman di sisimu pun takkan sanggup mengusir segala sakit dan sepimu saat ia ternyata bukanlah orang yang mampu memahami dan berbagi denganmu. Malah kau bakal semakin kesepian dan jengah saat ia ternyata adalah orang yang teramat berbeda denganmu. Tapi bahkan bila ia adalah orang yang mampu memahami kita sekalipun, orang yang barangkali senasib dengan kita, tak ada jaminan bahwa sepi dan sakit itu akan lekas minggat dengan sendirinya dari bilik hati kita. Duh, memang “nasib adalah kesunyian masing-masing”…)


Maka tengah-malam itu, sekira sepuluh menitan setelah segelas anggur merah tereguk hingga tetes penghabisan, serasa ada samudera bergelombang yang tiba-tiba muncul dan pelan perlahan menelan tubuh dan kesadaranku, mengunyahnya hingga menjadi remah-remah yang berhamburan berlesatan tak tentu arah. “Aku hilang bentuk. Remuk!” begitu kira-kira dapat kulukiskan keadaan eksistensialku tengah-malam itu. Efek yang ditimbulkan memang tak sedahsyat “badai serotonin” akibat reaksi kimiawi amphetamine dalam berbagai jenis drug atau zat-zat adiktif lain semisal heroin, kokain, dan opium. Tapi cukuplah bagiku, khasiat redwine itu membawa kesadaranku lenyap dalam senyap meninggalkan sadis dan bengisnya dunia nyata. Ada semacam kondisi delirium di mana aku mengalami delusi dan halusinasi ringan, pertanda aku memasuki dunia antah berantah (untuk tak menyebutnya “alam gaib”, sebab kutahu kau bakal merinding dibuatnya –apalagi bila kau gemar menyimak film-film horor bikinan sineas-sineas Indonesia itu, hehehe…).

* * *

Kebiasaan membius diri dengan berbagai macam zat yang ada dalam beberapa jenis tumbuhan tertentu guna mendapati sensasi mistis dan gaib telah ada sejak jaman purba. Suku Indian Barasana di lembah Amazon barat laut di Kolombia dan Indian Quechua di Ekuador menggunakan tanaman ayahuasca (Banisteriopsis caapi), yang berarti “sulur jiwa”, untuk membuat “roh berkeliaran meninggalkan jasad” secara temporer. Setelah mengonsumsi tumbuhan ini, akan muncul rasa pusing, mual, muntah, disusul penglihatan yang mulai mengabur, dengan semburat cahaya dan kabut biru, lantas jatuh tertidur dan tenggelam dalam mimpi-yang-dalam. Sementara itu, tanaman koka dipuja-puja bangsa Inca, dan orang-orang Aztec menggunakan jamur psikotropika yang mereka sebut “daging dewa” (teonanacatl) untuk mendapatkan sensasi surgawi. Kaum Huichol di Nayarit, Meksiko, memanfaatkan kaktus peyote (Laphophora williamsi) untuk “bercakap-cakap dengan dewa mereka”.


Ada juga metode menenggelamkan kesadaran untuk menyelam jauh ke alam maya tanpa harus menggunakan zat-zat halusinogenik. Ya, apa yang diamalkan di dalam tarekat-tarekat sufi di Timur Tengah lewat alunan musik monoton yang berulang-ulang, atau melafalkan kalimat-kalimat dzikir dengan mengulangnya selama berjam-jam, atau dengan tarian berputar laiknya gasing seperti dijalankan para darwis pengikut Rumi, pada hakekatnya adalah langkah untuk menuju kondisi ekstase yang efeknya kurang lebih sama dengan khasiat zat-zat halusinogenik. Demikian pula yang dilakukan para rahib dan resi dengan merapal mantra-mantra khusus untuk membuka tabir alam gaib. Namun, tentu saja, cara-cara demikian jauh lebih sulit dan membutuhkan ketekunan dan kesabaran ketimbang menggunakan zat-zat halusinogenik yang notabene bisa dilakukan siapa pun tanpa harus bersusah payah.

* * *

Aduhai… aku bagai shaman yang mendapati dirinya membuka berlapis-lapis tirai gaib alam semesta guna menemui realitas-realitas tak kasat mata…

Ahaa… aku bak sufi yang mengalami trance dalam tarian-tarian mistis dan dzikir-dzikir ilahiyah…

Dan kau, stranger, bersediakah untuk mencicipi manisnya anggur merah bersamaku, menemaniku menyingkap selubung demi selubung misteri eksistensi, dan berdua menikmati panorama-panorama surgawi di semesta maya yang belum pernah kau kenal, untuk yang pertama sekaligus yang terakhir kali..? (semacam Perjamuan Terakhir yang sengaja ingin kuhelat khusus untukmu sebelum aku moksa, begitu kira-kira...)

Sudikah kau, stranger?

Sudikah?

Sudi?

Heh?

??

[ namun pabila kau menampiknya, maka ijinkanlah aku untuk sekedar meraih telapak tanganmu, menjabatnya, dan kemudian menciumnya sejenak, sebagai perlambang restumu untuk melepas kepergianku…]

18agustus2009