malam itu, setelah menyisir sekujur malioboro dari arah utara ke selatan, mengamati riuhnya transaksi pasar di sepanjang jalan yang menjadi salah satu ikon legendaris
di antara ribuan orang yang hirukpikuk di sekitarmu, menjalani hidup dalam hening dan sunyi bisa jadi adalah sebuah paradoks. tapi hati manusia, siapa pun ia adanya, memang ditakdirkan untuk eksis dalam sebuah kesunyian. maka, ia yang lebih banyak mengikuti, mendengarkan, dan memanjakan suara hatinya, harus merelakan diri untuk berada dalam laku kesunyian. (ah, aku teringat lelaki bernama vasudewa, si tukang sampan dalam cerita novel siddharta gubahan hermann
saat malam mulai beringsut menuju pagi, di tengah dinginnya kabut yang turun menyelimuti, aku menggigil kedinginan –sayangnya, juga makin kesepian. aku bayangkan andai kau ada di sini, duduk tepat di sampingku, tentu kita akan bercengkrama, bercerita entahapasaja, untuk melewatkan malam bersama, mengusir sepi dan sunyi ini bersama. ah, tapi bahkan aku tak cukup bernyali untuk bersua denganmu di alam nyata, dan lebih memilihmu hadir dalam maya. mungkinkah aku takut bahwa kau akan mencuri sunyi dan sepi yang telah menjadi milikku ini, menjadi takdirku ini. karena, perlu kau tahu, meski kadang aku takut dan benci pada sunyi dan sepi itu, tak bisa kupungkiri bahwa aku juga mencintainya, menikmatinya, mencanduinya...
aku ingin seperti matahari, terus berpijar dalam kesendiriannya, dalam kesunyiannya...
aku suka pada mereka yang berani hidup
aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
chairil anwar tak mengadaada saat ia menuliskan sajak prajurit jaga malam. malam, seperti kita tahu, adalah momen di mana kita dapat menjemput keheningan dalam doa, dalam simpuh sembah dan percakapan ilahiyah, dan masa di mana hati dapat bersuara dengan nyaring tanpa terganggu keriuhan aneka rupa manusia. sementara di ujung yang lain, malam adalah momen di mana kedurjanaan manusia acapkali terjadi: perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, mantra yang dirapal untuk mengirim tulah, dan lain sebagainya. maka, sebagaimana hidup yang tak lain adalah sebuah paradoks besar, malam adalah sebuah paradoks, dan berbahagialah ia yang mampu bertahan dan bermainmain di dalamnya…
kesunyian, kesunyian, kesunyian…
serasa aku telah hidup dalam seratus tahun kesunyian…