Sabtu, 15 Agustus 2009

cien annos de soledad (2)

malam itu, setelah menyisir sekujur malioboro dari arah utara ke selatan, mengamati riuhnya transaksi pasar di sepanjang jalan yang menjadi salah satu ikon legendaris kota jogja itu, aku duduk sendirian tepat di depan bangunan gedung agung yang berseberangan dengan benteng vredenburg. sendirian tanpa kawan bercengkrama, di tengah ribuan manusia yang tumpah ruah di ujung malioboro itu, ada sunyi yang tibatiba merasuk, menusuknusuk kesadaran eksistensialku. kau tahu, betapa kesendirian tak jarang menumbuhkan kerentanan di hati anak manusia. kegilaan seringkali datang menyergap saat manusia lengah dalam kesendiriannya, saat ia tenggelam dalam kesunyian yang terlampau dalam. ah, tapi beruntung kau hadir lewat puluhan sandek (pesan pendek) yang tak lelahlelahnya kau kirimkan padaku, malam itu. setidaknya aku bisa bercerita padamu tentang kesunyiaan itu, tentang kesendirian itu, dan kau menyimaknya dengan sepenuh rasa di hatimu...


di antara ribuan orang yang hirukpikuk di sekitarmu, menjalani hidup dalam hening dan sunyi bisa jadi adalah sebuah paradoks. tapi hati manusia, siapa pun ia adanya, memang ditakdirkan untuk eksis dalam sebuah kesunyian. maka, ia yang lebih banyak mengikuti, mendengarkan, dan memanjakan suara hatinya, harus merelakan diri untuk berada dalam laku kesunyian. (ah, aku teringat lelaki bernama vasudewa, si tukang sampan dalam cerita novel siddharta gubahan hermann hesse, yang menghabiskan hidupnya seorang diri dalam kesunyian hutan dan sungai, dan memilih belajar tentang kebijaksanaan dan misteri kehidupan kepada sang sungai.) berbahagialah ia yang mampu menikmati kesunyian…


saat malam mulai beringsut menuju pagi, di tengah dinginnya kabut yang turun menyelimuti, aku menggigil kedinginan –sayangnya, juga makin kesepian. aku bayangkan andai kau ada di sini, duduk tepat di sampingku, tentu kita akan bercengkrama, bercerita entahapasaja, untuk melewatkan malam bersama, mengusir sepi dan sunyi ini bersama. ah, tapi bahkan aku tak cukup bernyali untuk bersua denganmu di alam nyata, dan lebih memilihmu hadir dalam maya. mungkinkah aku takut bahwa kau akan mencuri sunyi dan sepi yang telah menjadi milikku ini, menjadi takdirku ini. karena, perlu kau tahu, meski kadang aku takut dan benci pada sunyi dan sepi itu, tak bisa kupungkiri bahwa aku juga mencintainya, menikmatinya, mencanduinya...

aku ingin seperti matahari, terus berpijar dalam kesendiriannya, dalam kesunyiannya...


aku suka pada mereka yang berani hidup

aku suka pada mereka yang masuk menemu malam


chairil anwar tak mengadaada saat ia menuliskan sajak prajurit jaga malam. malam, seperti kita tahu, adalah momen di mana kita dapat menjemput keheningan dalam doa, dalam simpuh sembah dan percakapan ilahiyah, dan masa di mana hati dapat bersuara dengan nyaring tanpa terganggu keriuhan aneka rupa manusia. sementara di ujung yang lain, malam adalah momen di mana kedurjanaan manusia acapkali terjadi: perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, mantra yang dirapal untuk mengirim tulah, dan lain sebagainya. maka, sebagaimana hidup yang tak lain adalah sebuah paradoks besar, malam adalah sebuah paradoks, dan berbahagialah ia yang mampu bertahan dan bermainmain di dalamnya…


kesunyian, kesunyian, kesunyian…

serasa aku telah hidup dalam seratus tahun kesunyian…


14 agustus 2009