:: tafsiran liar atas lima syair lagu karya Helloween: The Dark Ride, Keeper of the Seven Keys, Wake up the Mountain, Eagle Fly Free, dan Mission Motherland.
- - -
Umat manusia hidup dalam kebutaan hatinya, tu(h)anku. Mereka saling bunuh saling tindas saling peras saling rampas. Mereka diperbudak nafsu angkara-murkanya. Mereka membikin dunia jadi terang-benderang demi agar bisa melihat dengan mata-kepalanya semesta dan sesamanya untuk melayani dan menjadi kurban naluri kejinya. Maka terasa percumalah nabi-nabi diutus, tu(h)anku. Mereka juga coba mereka-reka konstitusi dan beribu-ribu lembar kitab hukum dan aturan ini-itu. Tapi miliaran kepala dengan isi pikiran berbeda-beda toh pada akhirnya membuat tiap-tiap tubuhnya merasa terancam para liyan, siapa pun liyan itu adanya. Bahkan mereka yang mengalir darah sama dalam tubuhnya pun tak luput saling berebut, kadang malah berbunuhan. Dan titahmu, tu(h)anku, justru membikin mereka saling bersilang paham berebut kebenaran untuk diri dan kelompoknya masing-masing. Para liyan dilumat atas nama titahmu, tu(h)anku. Dan dunia jadi makin silang-sengkarut karena semua itu.
Tapi aku gembira kala tahu ada segelintir dari mereka menyeru pada kebajikan, mengajak umat manusia ’tuk saling bergandengan tangan. Walau aku juga paham, tu(h)anku, seruan mereka tak ubahnya suara teriakan di gurun pasir: segera lenyap segera senyap ditelan angin. Tapi menyedihkan pula segelintir dari mereka itu, tu(h)anku. Mereka telan mentah-mentah sabdamu. Mereka kutuki setan demi menyembunyikan kelemahan dirinya. Padahal setan itu adanya di dalam diri mereka jualah. Mereka kambinghitamkan makhluk di luar dirinya. Betapa bodoh lagi picik mereka, tu(h)anku.
Menyedihkan, tu(h)anku. Kenapa kau kurung mereka dalam paradoks tak bertepi. Tanpa paradoks hidup ini takkan pernah meng-ada dan men-jadi, katamu. Dan kiranya engkau patutlah tertawa menyaksikan sebagian umatmu itu saling tikam dan sebagian lainnya tak lelah mengajak pada kebajikan. Maka biarlah kusabdakan pada mereka sabdaku sendiri, bukan sabdamu.
Tak pernahkah kalian rasai ketakjuban pada dunia ini, hai manusia?
Mengapa kita ada di sini, di bawah naungan langit?
Adakah semua ini terlalu banal bagi pikiran dan perasaan kalian?
Takkah kita ada karena cinta dan untuk cinta?
Atau malah untuk membikin dosa berkelimpahan?
Bebaskan diri kalian dari ragam kecemasan, wahai manusia!
Lepaskan temali duniawi yang meliliti batang leher dan perutmu!
Bebaskan tanahmu dari perbudakan nafsu serakahmu!
Bebaskan tangan dan kuku-kukumu dari kehausanmu akan darah!
Singkirkan batu-batu yang menindih hatimu!
Dan saksikanlah luasnya cakrawala di atas kepalamu!
Lalu terbanglah lurus ke atas dan jangan pernah turun kembali!
Bila kalian tak sanggup maka pergilah ke segala arah!
Temukanlah kunci-kunci untuk membuka segala pintu kedurjanaan kehidupan!
Gunakan kunci-kunci itu nantinya ’tuk membuka pintu-pintu kebencian, ketakutan, kesia-siaan, ketamakan, kebodohan, wabah penyakit, dan dunia ini sendiri; agar semua itu pergi dan musnah dalam kehidupan kalian!
Tapi bila kalian tak jua mampu maka keluarlah dari bilik-bilik kemunafikan dan rayakanlah kegilaan kalian ini!
Dan aku yakin kebanyakan mereka takkan sampai pada pemahaman kalimat-kalimatku tadi, tu(h)anku. Mereka akan sangka akulah yang gila adanya... Kebanyakan mereka memang, parsis seturut sabdamu, ”bodoh dan keji...”
tubir neraka, 2009